A Personal Blog About Blogging, Hobbies, and Lifestyle

Kemarau di Sedanau Karya Asroruddin Zoechni

Halo, teman-teman. Buku apa yang berhasil kamu baca di akhir tahun ini?

Akhir tahun ini, aku berhasil menamatkan bacaanku, Kemarau di Sedanau. Novel ini aku baca dalam bentuk e-book, yang aku baca melalui aplikasi playbook. Kebetulan saat aku beli, aku mendapatkan diskon.

Kemarau di Sedanau merupakan tulisan dari seorang dokter bernama Asroruddin Zoechni. Penulis merupakan dokter mata, yang saat ini bisa kamu sapa melalui akun Instagramnya di @asroruddinzoechni.

Novel ini ditulis melalui platform Gramedia Writing Project. Hingga pada akhirnya, penerbit Buana Ilmu Populer Gramedia mempersunting naskah tersebut untuk diterbitkannya di Bhunana Sastra. Novel ini memiliki tebal sekitar 317 halaman. Dan terbit pada tahun 2023.

Review Kemarau di Sedanau

Melansir dari website Wikipedia, Sedanau merupakan kelurahan sekaligus ibu kota Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Kepulauan Riau, Indonesia. Sedanau merupakan wilayah terpadat dan terbanyak penduduknya di Kecamatan Bunguran Barat. Secara geografis terletak di daerah pantai dengan tofografi dataran rendah dan dataran tinggi. Mari kita lanjutkan review Kemarau di Sedanau.

Kemarau di Sedanau menceritakan Salman Adiputra, pemuda yang berasal dari pulau Sedanau, sebuah daerah di kabupaten Natuna. Salman memiliki cita-cita menjadi seorang dokter. Ia berasal dari keluarga yang terbilang kurang mampu, Salman kerap dipandang sebelah mata karena cita-citanya yang dianggap terlalu tinggi. Salman dan keluarganya sering dipandang rendah. Meski banyak yang memandang rendah dan penuh cacian, masih ada orang baik yang tulus dengan Salman, dan keluarganya. Seperti Pak Darwis, misalnya.

Semasa remaja Salman menghabiskan waktunya untuk belajar, dan membantu orang tuanya. Salah satunya bekerja di kedai ikan milik Pak Darwis. Salman dideskripsikan sebagai pemuda yang baik, rajin salat, dan saleh. Ia sangat dekat dan berbakti kepada orang tuanya. O iya, Salman merupakan tiga bersaudara, ia memiliki dua adik, Hidayah dan Bukhari.

Membaca cerita Salman, aku dibuat larut dan ikut menyelami perjalanannya menjemput impiannya menjadi dokter, yang penuh lika-liku tantangan sekaligus penderitaan yang datang bertubi-tubi.

Salman harus kehilangan ayahnya, di awal perjuangannya untuk ikut seleksi masuk kedokteran melalui jalur beasiswa. Meski ia berhasil mendapatkan beasiswa tersebut, Salman diuji lagi. Jalannya untuk menempuh pendidikan dokter tidak mulus. Cobaan datang dari kekasihnya, Hamidah, yang tiba-tiba melabuhkan hati pada laki-laki lain. Padahal telah berjanji akan menunggu Salman hingga berhasil jadi dokter. Berkali-kali Salman diuji, hingga pada kehilangan berikutnya.

Penderitaan Salman seperti tanpa ujung. Apalagi, Salman juga didiagnosa mengalami gangguan kesehatan mental, post-traumatics stress disosder. Ia harus berjuang untuk sembuh dari luka dan trauma yang ia alami akibat patah hati dan kehilangan. Beruntung banyak orang orang baik di sisinya, yang membantu ia berjuang untuk sembuh. Seperti prof Tjokro, yang menyambut baik sejak Salman mengawali perkuliahan kedokteran, hingga harus melewati penyakitnya. 

Dari awal membaca novel Kemarau di Sedanau aku ikut hanyut dalam kisah Salman dan keluarganya. Aku seperti mengikuti dan menjadi saksi perjuangan Salman dari nol, hingga Salman bisa bangkit dan kembali meraih cita-citanya menjadi dokter. Kadang, ketika Salman sedih, aku ikut sedih. Ketika Salam diremehkan, rasanya aku tidak terima. Apalagi, saat harus menghadapi kehilangan tiga kali berturut-turut.

Novel ini berlatar di Sedanau, dan juga di beberapa tempat seperti Universitas Tanjungpura, Pontianak. Aku suka bagian penulis menarasikan dan memberikan detail setiap tempat yang menjadi latar di novel ini. Aku seperti diajak berpetualang ke daerah-daerah yang belum pernah aku kunjungi. Bahkan novel ini mengingatkan lagi, bahwa dulu pernah berniat ikut mengabdi dan mengajar di Natuna, tapi kesempatan belum ada. Sambil membaca novel Kemarau di Sedanau, aku juga sambil mencari di google, beberapa tempat yang dideskripsikan dengan indah oleh penulis. Seperti Selat Lampa, pulau Sedanau, Ranai, Tugu Digulis dan lain sebagainya.

Novel Kemarau di Sedanau juga kental dengan bahasa daerah. Dialog antar tokohnya, seperti Salman dan beberapa tokohnya juga menggunakan bahasa daerah Melayu. Meski aku orang Jawa, aku masih bisa memahami bahasanya. Karena masih tergolong mudah. 

Penulis juga berhasil memberikan nyawa di setiap tokoh yang dihadirkan. Mereka memiliki porsi yang pas, dan nggak sekadar tempelan dan numpang lewat. Aku suka bagian kehidupan Salman dan keluarganya, hangat. Serta Salman dan teman-teman seperjuangannya di pendidikan kedokteran yang baik dan menyenangkan.

Bagian yang aku suka lainnya dari kisah Salman adalah saat Salman dan para dokter menangani kasus para pasien-pasien. Rasanya seperti ikut di dalamnya.

Dan dari novel ini, aku juga mendapatkan banyak istilah baru dalam dunia medis, dan beberapa ilmu pengetahuan seputar dunia kedokteran yang ternyata sangat kompleks. Aku merasa sedang diajak dan diedukasi tentang ilmu kedokteran. 

Aku jadi menyimpulkan satu hal bahwa untuk menjadi dokter memang membutuhkan waktu yang panjang, tenaga yang super banyak, dan pengetahuan yang di luar kepala. Perjalanan dan prosesnya untuk menjadi dokter sangat panjang sekali. Harus melewati beragam stase-stase, ujian demi ujian, hingga berhasil dinyatakan lulus dan bisa menjadi dokter.

Alurnya berjalan dengan runut, aku sangat menikmati cerita Kemarau di Sedanau. Hanya saja, sedikit menemukan double ketik, dan salah ketik, tapi masih bisa ditoleransi. Sekadar saran untuk penulis dan editor, apabila novel ini akan cetak secara fisik, barangkali bisa dicek kembali. Semoga bisa jadi bahan perbaikan. Penyelesaian di setiap konfliknya juga tepat, tidak terkesan dipaksakan untuk selesai selesai. 

Novel Kemarau di Sedanau banyak memberikan pelajaran hidup:
Tentang penerimaan, menerima dengan ikhlas apapun takdir yang telah Tuhan gariskan. Baik itu buruk maupun baik. Karena sejatinya, Tuhan tidak akan memberikan cobaan, jika kita tidak bisa melaluinya. 

Tentang bertanggungjawab dan berjuang hingga akhir, terhadap apa yang sudah dimulai dan pilih.

Dan tentang terus bersabar, dan terus melibatkan dan mengingat Allah SWT di setiap fase kehidupan.

Beberapa kalimat di novel Sedanau di Kemarau ini juga quotable:

Kalau kau hanya memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentangmu, kau tak akan berkembang menjadi seseorang yang kaya. Dirimu juga harus punya sikap. Tak boleh berpatah arang. - 74.

Menjadi dokter itu passion dan pengabdian. Jadi singkirkan dulu motivasi lain seperti motivasi mendapatkan uang yang banyak, atau motivasi-motivasi yang akan merusak kemuliaan profesi kita. - 114.

Jika kamu suka novel tentang perjuangan, dan seputar dunia kedokteran, dan keindahan Sadanau, Natuna, novel ini aku sangat rekomendasikan. 

Buat kamu yang ingin baca novel ini, bisa membeli ebook-nya secara legal melalui Gramedia Digital atau di Playbook.

Semoga review ini dapat membantu kamu menemukan bacaan yang sesuai dengan apa yang kamu sedang cari! 

36 komentar

  1. Ini novel non fiksi berarti y kak? Ceritanya menginspirasi ya, yg kukutip dr review novel tersebut, bahwa serendah apapun kita, harus tetap memiliki sikap dan semangat meraih cita-cita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini novel fiksi, mba. Iya, banyak kalimat quotable yang ngena

      Hapus
  2. Sepertinya novel ini cukup seru untuk dibaca. Reviewnya membuat saya ingin membeli novel tersebut, terimakasih ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo beli, mas Gusti. Nggak bakalan nyesel kok beli ini

      Hapus
  3. Terima kasih atas ulasan novel ini, ya. Saya jadi tahu satu lagi seorang dojter, yg kaki ini dokter mata, sukses sebagai penulis juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. dokternya produktif banget, di tengah kesibukan urus pasien masih bisa menulis

      Hapus
  4. Jadi termotivasi juga buat menyelesaikan naskah novel saya yang masih mangkrak di Gramedia Writing Project, semoga juga bisa dilirik oleh penerbit grup Gramedia :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo, mas Heri. Selesaikan, siap mereview novelnya

      Hapus
  5. Aku suka banget nih kak cerita fiksi berlatar belakang salah satu daerah di Indonesia. Apalagi jika penggambaran latar belakangnya kental ditambah ide cerita yang menarik, sudah pasti aku harus banget baca ini mah....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mba Ninin. Novel yang satu ini kental banget nuansa daerahnya

      Hapus
  6. Keren mba masih sempat baca di era apa-apa serba audio visual. Apalagi memilih yang latar belakang serta tokohnya dari Indonesia. Sy juga jadi tahu daerah Sedanau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya memang hobi baca buku, mba. Jadi perasaan saya tetap bahagia meski hanya baca buku

      Hapus
  7. Wah kayaknya seru nih. BTW ini based on true story kah? Kalau versi cetaknya ada atau ebook aja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya, mba. Cuma aku juga belum tahu si. Tapi ini termasuk fiksi

      Hapus
  8. Gaya bahasa novel ini sederhana namun puitis, menggugah imajinasi pembaca tentang keindahan alam dan budaya Sedanau.

    Karakterisasi novel ini juga kuat dan mendalam, menampilkan berbagai tokoh yang memiliki latar belakang, konflik, dan motivasi yang berbeda-beda. Pesan moral yang disampaikan novel ini adalah tentang pentingnya menjaga keseimbangan antara alam dan manusia, serta menghargai keragaman dan toleransi di tengah kemarau sosial dan politik yang melanda negeri ini.

    Secara pribadi sangat menyukai novel ini. Keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. sudah baca novel ini juga, Kak? Tapi ini tuh tentang perjuangan juga, Kak. Perjuangan tokoh utamanya dalam mendapatkan gelar menjadi seorang dokter.

      Hapus
  9. AAA pengen baca jugaa... kayaknya seru deh novelnya. Ini ada di gramedia nggak ya?

    BalasHapus
  10. layak menjadi referensi dan juga harus baca nih, siapa tahu kan dapat pencerahan tentang apa gitu biar hidup g gitu2 amat

    BalasHapus
  11. Salah fokus lihat desain sampul bukunya yang menarik. Menyiratkan judul membuat nuansa kemarau di Sedanau dengan memperlihatkan seseorang yang berdiri menatap perairan. Membuat yang melihat semakin tertarik ingin baca, apalagi ulasannya juga bikin kepo

    BalasHapus
  12. kalau aku kasih referensi bacaan ini ke ponakanku pasti dia sukkak banget.. secara dia suka baca

    BalasHapus
  13. Sudah lama nggak baca novel. Novel di atas sepertinya bagus untuk bahan bacaan akhir pekan ini.

    BalasHapus
  14. Bentar, jangan-jangan ini novelnya biografi penulisnya sendiri ya? Keren ya beliau. Karena kupikir jadi dokter itu pasti udah sibuk banget. Tapi beliau masih bisa menulis sebuah novel.

    BalasHapus
  15. Masya Allah ceritanya haru banget. Ini pasti banyak mengandung bawang ya kak? 🥺 Patah hati dan kehilangan, mirip kisahku saat awal masuk semester 1. Baca review nya jadi malah seperti melihat diri sendiri. Penasaran, apalagi covernya bagus banget mendukung ceritanya.

    BalasHapus
  16. Bener nih, marasi penulis sedetail itu. Pembaca juga jadi ngerasa diajak jalan-jalan yah, kak, hihi.. Dan satu pesan dari buku ini, Tuhan nggak akan ngasih cobaan di luar kemampuan kita. Duh, jadi pengen baca bukunya.

    BalasHapus
  17. Wah makna dari tulisan di novelnya sepertinya dalem banget yaaa. Kyknya hasil perenungan penulisnya juga. Apalagi kalau tema kehilangan, patah hati gitu mungkin berangkat dari kondisi riil, pasti gak mudah menulisnya karena ketika ngedraft aja keingat dan berusaha berjuang lagi buat menepis hal2 yang bikin sedih. Tapi tulisna kyk gini bagus buat bahan belajar dan evaluasi pembacanya.

    BalasHapus
  18. Di awal baca Sedanau kira benar-benar satu danau. Ternyata nama sebuah tempat ya. Terbukti Indonesia itu keren 😊

    BalasHapus
  19. sudah jarang baca novel jadinya kangen beli buku lagi, masya Allah pasti seru ya, biar enggak bosan di rumah aja.

    BalasHapus
  20. Jadi googling setelah baca review ini. Versi cetaknya hanya dengan sistem POD ya ternyata.
    Btw, aku sering takjub kalau lihat dokter menulis novel (dari era buku Mira W dan Marga T). Kok mereka sempet yaaa nulis novel, padahal kan pasti sibuk ngurus pasien. Apa akunya aja ya yang kebanyakan alasan buat nulis?

    BalasHapus
  21. Iya, Kak. Dan novelnya juga memang menarik, dari covernya saja sama blurbnya sudah bisa mempengaruhi orang untuk baca

    BalasHapus
  22. Sudah lama enggak baca novel, karena setahun belakangan lebih banyak baca nonfiksi. Tapi sepintas dari review ini, kayaknya buku ini bisa jadi awalan balik baca novel hihihi.

    BalasHapus
  23. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  24. Wah jadi kepo sama novelnya , bagus kak review novelnya

    BalasHapus
  25. Aku baca review novel ini juga terbawa suasana deh. Bener2 mengalir gitu, kyk berasa gmn penderitaan Salman soalnya pernah ngalamin juga. Recommended bgt novel ini.

    BalasHapus
  26. Aku baca review novel ini juga terbawa suasana deh. Bener2 mengalir, kyk berasa gmn penderitaan Salman soalnya pernah ngalamin juga. Recommended bgt novel ini.

    BALAS

    BalasHapus
  27. belakangan ini saya sering baca-baca buku novel biar memperkaya cara menulis novel yang baik dan menarik itu seperti apa, sepertinya wajib juga baca novel ini, apalagi berlatar belakang satu tempat pastinya bakal memperkaya saya dalam menjelaskan sesuatu secara panca indra, halamannya lumayan juga ya 317 halaman dan ternyata terbitan 2023 masih baru berarti

    BalasHapus
  28. Novelnya bagus banget dan ceritanya membawa kita kedalam suasananya pada saat membacanya

    BalasHapus