A Personal Blog About Blogging, Hobbies, and Lifestyle

Merayakan Hari Ibu Tanpa Ibu

Selamat hari ibu, Mama. Mama, meski kita berada di dua dimensi kehidupan yang berbeda, izinkan aku menulis dan menyampaikan rasa kangen yang teramat ini ya, Ma. Aku selalu mengingat Mama, melangitkan doa-doa agar Mama selalu diberikan kenikmatan kubur, diampuni selalu, dan diberikan tempat paling mulia di sisi Allah SWT.

Merayakan hari ibu tanpa ibu
Foto ini diambil pada tahun 2010

Mama, sebenarnya, hari ini aku ingin menonaktifkan handphone dan menutup akun sosial media untuk satu hari ini. Karena pasti akan ada banyak story dari teman-teman yang merayakan hari ibu, dan mereka bisa langsung memeluk ibunya. Aku merasa sedih, Ma. Karena aku cuma bisa menatap foto mama, memutar lagi kaset kenangan yang ada di kepalaku. Aku sudah tidak bisa memeluk Mama lagi. Satu-satunya cara untuk memeluk Mama adalah dengan mengirimi doa setiap hari.

Aku tidak apa-apa, Ma. Sebab, aku juga tidak sendiri, masih ada anak lain yang ibunya sudah berpulang ke rumah paling abadi. Aku juga tidak sendiri, di dunia ini. Aku masih memiliki Bapak, yang paling baik sedunia. Aku masih memiliki kakak-kakak yang juga baik padaku. Aku masih ada sahabat, dan teman-teman yang masih ada di sekelilingku.

Mama, aku hanya kangen sama Mama. Aku kangen dengan setiap gerak gerik Mama di dapur, setiap kali Mama bilang untuk menambahkan kecambah pada setiap sayuran hijau yang Mama masak. Kadang aku heran, kenapa di daerahku setiap sayuran hijau yang ditumis pasti dicampur dengan kecambah? Tapi, Masakan Mama tetap terbaik. Meski kecambah selalu menjadi tambahan di setiap sayuran hijau yang dimasaknya.

Mama, aku kangen sama Mama. Aku kangen saat Mama berkali-kali memanggilku, tapi aku tidak mendengar panggilan tersebut. Sebab, aku memakai earphone. Sambil rebahan yang ujungnya aku tertidur. Maaf ya, Mama. Atau aku hanya menjawab panggilan Mama dengan kalimat, sebentar Ma,  nanggung nih. Andai, aku tahu, garis finis Mama di dunia berakhir di tanggal 10 Desember 2021, aku pasti akan selalu menghadap Mama jika aku dipanggil. Maafin aku ya, Ma. 

Mama, aku kangen sekali sama Mama. Aku kangen saat aku memaksa salat berjama'ah, aku sebagai makmum, Mana sebagai imam. Tapi, sampai sekarang aku nggak tahu, alasan kenapa Mama tidak pernah mau salat jama'ah denganku. Pasti Mama selalu menyuruhku untuk salat sendiri. Tapi nggak apa-apa, Ma. Terpenting, aku selalu dekat dengan Mama.

Mama tahu nggak? Saat pertama kali aku dikabarin oleh Bapak, bahwa Mama akan pulang ke rumah, pad hari Jumat tanggal 10 Desember 2021, aku bahagia sekali. Kupikir Mama dinyatakan sembuh. Iya, Mama pulang ke rumah tempat kita bersama selama ini, tapi Mama juga pulang ke tempat paling abadi. Saat itu aku sedih sekali, Ma. Rasanya duniaku berhenti. Duniaku runtuh, duniaku mendadak gelap. Aku masih menuntut keadilan Allah SWT saat itu. Mengapa Mama yang dipanggil? 

Aku menangis seharian, dua hari, seminggu, sebulan, dan akhirnya, aku lelah. Aku menyadari, dengan menangis pun, keadaan akan tetap sama. Mama telah pergi, meninggalkan aku, dan keluarganya. Aku menyerah, aku berhenti menangis. Aku berdamai dengan keadaan.

Mama, aku berdamai dengan keadaan itu cukup lama. Beberapa bulan sejak Mama pergi, aku merasa hari-hariku lama, dan panjang. Aku merasa sulit sekali beradaptasi, dan menerima keadaan, bahwa Mama telah pergi jauh dariku. Mama telah berada pada dimensi kehidupan yang lain. 

Mama, aku memang membutuhkan waktu lama sekali, untuk bisa kembali tersenyum, kembali melangkah dengan rasa percaya diri yang utuh setelah kepergian Mama. Aku berkali-kali sedih, rasanya duniaku sudah tak utuh. Tapi, beruntung aku cepat disadarkan oleh Allah SWT, Ma. Aku disadarkan, bahwa aku masih memiliki Bapak, yang luar biasa untuk aku. 

Mama, tahu tidak? Sekarang, aku sudah kembali ceria. Aku kembali menyusun puzzle-puzzle mimpiku, dan mulai satu persatu mewujudkannya. Mama pasti senang kan mendengarnya. Sekarang, aku sudah jarang menangisi kepergian Mama. Karena ternyata, itu yang bikin Mama bakalan berat di sana. Maafin aku ya, Ma. Pernah menangis hebat, dan seakan lupa, kalau garis finis setiap orang berbeda. Tapi yang pasti, kapan pun garis finis itu datang, semoga kelak kita sekeluarga bisa dipertemukan kembali di surga terbaik yang Allah SWT punya ya, Ma.

Selamat hari ibu, Mama. Meski tiga kali berturut-turut merayakan hari ibu tanpa Mama di sini. Aku tetap akan mengucapkan itu, bersama doa-doa baik yang kulangitkan untuk Mama. Husnul khatimah ya, Ma.



Tidak ada komentar

Posting Komentar