A Personal Blog About Blogging, Hobbies, and Lifestyle

Pecinta Sambal, Wajib Cobain Sambal Cumi Liwetan Mak Lampor

Hai, sobat blogger. Kamu pencinta sambal? Sama nih. Saya juga pencinta sambal. Apalagi kalau dimakan dengan nasi hangat dan kerupuk. Itu sudah cukup untuk mengisi tenaga. Jika kamu pencinta sambal, maka kamu perlu mencicipi sambal cumi dari Liwetan Mak Lampor. 

Cerita Sambal Cumi Liwetan Mak Lampor

Ades Setya Lestari, adalah orang yang ada di balik sambal Cumi Liwetan Mak Lampor. Sebenarnya, tidak hanya cumi saja, tapi ia juga memproduksi sambal lain yaitu tongkol. Berhubung saya lebih suka cumi dibanding tongkol, saya jadi memutuskan untuk order sambal cuminya dulu.

Sambal cumi liwetan mak lampor

Balik dulu ke cerita sambal cumi mak Lampor. Katanya, mak lampor itu adalah sebutan untuk dirinya dari teman-teman dekatnya. Tapi, sebutan itu berujung pada usaha yang mulai ia rintis pada tahun 2020an.

Ia mulai menjual nasi liwetan dengan berbagai macam menu masakan rumahan. Dan sambalnya pun juga ia produksi pada saat itu. Tapi, usahanya berakhir mangkrak karena terlalu banyak menu yang ia jual. Mungkin jadi tidak fokus kali ya, sobat blogger. Melalui pesan whatsapp, ia bercerita. 

Lalu, di awal ramadan tahun ini, setelah ia menikah, ia memulai kembali usahanya tersebut, namun hanya sambal cumi dan tongkol saja yang diproduksi. Dan produksi sambal sampai hari ini juga sudah mencapai angkat ratusan. Dan omsetnya juga sudah mencapai lima juta lebih. Keren ya. Sangat menginspirasi, kegigihannya dalam berwirausaha. 

Terus saya sempat mengulik ke mbak Ades nih, tentang bagai mana ia membagi waktunya antara bekerja di kantor dan berwirausaha. Apalagi, mbak Ades ini kan statusnya juga sudah menjadi istri. Menurutnya, tidak masalah bekerja kantoran dan berwirausaha. Sebab, pintar-pintarnya ia mengatur waktu. Didukung oleh pekerjaannya sebagai marketing, ia justru dapat mempromosikan produknya di sela-sela waktu senggangnya. Seperti pribahasa sambil menyelam minum air. 

Ia lanjut bercerita, kalau awal terjun memproduksi sambal cumi dan sambal tongkol, ia masak selepas pulang kerja. Pernah satu waktu, ia mendapatkan banyak orderan dan selesai pukul 01.30 dini hari. Bukan main ya, perjuangan memasak sambal cumi yang enak dan digemari oleh para pelanggannya. 

Setelah mendapatkan respon yang baik dari banyak orang, ia memutuskan untuk lebih mengatur lagi waktu bekerja dan waktu memproduksi sambal mak lampor. Nah, itu cerita singkat mbak Ades dalam membangun usaha sambal mak lampor. Sangat menginspirasi ya, sobat blogger. 

Dan bagai mana rasanya sambal cumi dari Mak Lampor ini?

Review Sambal Cumi Liwetan Mak Lampor dan Harganya

Saya termasuk pecinta sambal. Saya pun pernah masak sambal ayam suwir, tapi untuk sambal cumi saya selalu beli. Karena saya belum terlalu bisa mengolah cumi. Takutnya, malah jadi nggak enak. Dan kalau saya ingin makan sambal cumi, saya biasanya order melalui market place. 

Kadang, rasanya ada yang approved dan ada yang biasa saja. Dan kalau memang biasa saja, ada yang cuma jadikan itu untuk pengalaman saja, kalau saya sudah pernah mencobanya.

Perihal sambal mungkin bisa jadi selera masing-masing. Tapi, kalau saya selalu berusaha kasih rekomendasi yang memang bener-bener enak. Kalau kurang, saya akan bilang, ya ini belum masuk di sana enaknya.


Dan perihal sambal cumi Mak Lampor, ini approved. Dan saya merekomendasikan untuk kamu yang suka sambal. Semalam saya makan nasi dengan hanya pakai sambal cumi saja bisa nambah dua kali. Saya jadi mikir ini sambal dikasih apa, kok bisa enak gitu?

Potongan cumi di sambal cumi mak lampor ini kelihatan bentuknya, nggak yang kecil banget dan nggak yang besar-besar juga. Potongannya pas gitu. Di kemasan 200 gram ini, menurutku potongan cuminya banyak. 

Dan, sambal cuminya ini nggak amis. Mungkin karena cara pengolahan dari sambal Mak Lampor ini tepat ya, sehingga tidak meninggalkan bau amis. Dan terdapat aromatic dari irisan daun jeruk. Mungkin, selanjutnya untuk daun jeruknya lebih diiris tipis-tipis biar pas makan nggak terganggu. 

Untuk cabai yang dipakai juga cabai pilihan, tidak ada campuran bubuk cabainya. Untuk tingkat kepedasan, sambal ini menurutku cukup pedas, tapi masih bisa diterima dan dinikmati.

Untuk packaging sambal cuminya juga aman. Karena di dalamnya juga ada penutupnya, jadi pas dibuka pertama kali, nantinya harus buka lagi tutupnya yang di dalam, jadi aman. Dan nggak mudah tumpah. Saran, mungkin next nanti bisa bikin logo produk, atau stiker produk biar makin cantik kemasannya. Sehingga makin menarik konsumen. 

Untuk harganya terjangkau sekali. Harga sambal cumi 100 gram Rp 25.000, untuk 200 gram Rp 45.000. Sedangkan untuk harga sambal tongkol 100 gram Rp 15.000, 150 gram Rp 25.000, dan 250 gram Rp 40.000.  Kamu tertarik untuk mencobanya? 

Apa saya akan re-purchase? Tentu. Nanti kalau saya ada rezeki lebih dan lagi kepingin makan sambal cumi. Karena kalau makan sambal cumi Mak lampor terus menerus, saya takut nggak bisa ngerem dan khawatir angka timbangan makin ke kanan. 

Untuk kamu yang ingin pesan sambal cumi atau sambal tongkol Mak lampor, kamu bisa cek di market place Shopee di Liwetan Mak Lampor atau bisa order melalui tiktok shop di @liwetanmaklampor.



Tidak ada komentar

Posting Komentar