Merdekakan Alam Dengan Bijak Berplastik


Tinggal sehari lagi, kita akan memperingati hari proklamasi bangsa tercinta, Indonesia. Selama bulan Agustus ini, tentu banyak sekali kegiatan untuk mengisi hari kemerdekaan. Seperti menghias desa, mengadakan kegiatan lomba-lomba, memasang umbul-umbul dan lain sebagainya. Saya pun tidak mau dong hanya berdiam diri. Selain melakukan kegiatan seperti yang sudah disebutkan di atas. Saya juga mengisi bulan Agustus ini dengan cara memerdekakan alam. Kita semua pasti sudah tahu, kalau alam sudah banyak memberikan kebaikan-kebaikan pada kita, sudah menjadi sebuah kewajiban bagi kita untuk selalu bersyukur dan merawat serta menjaganya.

Salah satu cara memerdekakan alam adalah dengan bijak berplastik. Bijak berplastik saya wujudkan dengan selalu membawa tumbler kemana pun saya pergi. Sebenarnya bukan hal baru lagi, karena memang saya lebih senang membawa tumbler daripada membeli air kemasan. Dan sejak tahun 2016, sepulang saya mengikuti kegiatan nasional kepemudaan “Green Youth Camp 2” di Medan, Sumatera Utara, saya semakin komitmen untuk lebih bijak berplastik. 
 Semenjak adanya kebijakan tentang kantong plastik berbayar, saya mulai memanfaatkan kantong kain, goodiebag, totebag yang saya dapatkan dari quiz, seminar maupun hasil lomba untuk berbelanja di supermarket maupun di pasar. Awal-awal saya mengubah habit ini tidak mudah. Saya sering dapat cibiran “lebay bawa kaya gituan segala” “yaelah Cuma 200 rupiah doang kali tuh kantong ih. Ngapain bawa gituan”. Meski tidak mudah, penuh cibiran, tapi saya tidak akan menyerah. Dengar ya, saya itu bukan lebay atau tidak sanggup membayar 200 rupiah, tapi saya ingin menyelamatkan alam. Percayalah alam kita ini lebih berharga dari uang 200 rupiah. 


Kamu pernah bayangin nggak? Kalau bungkus plastik, botol plastik, kantong plastik dan sejenisnya yang sudah kita ambil isinya. Lalu kita buang semau kita, terus tiba-tiba mereka bisa ngomong?
“Hai manusia! Jangan biarkan aku menjadi sampah. Jangan biarkan aku jadi sampah yang sia-sia. Tersebab aku butuh ratusan tahun untuk diurai di dalam tanah” (Pakai lagu pak Haji Roma Irama ya)

Selain dua hal di atas, bijak berplastik bisa dilakukan dengan memanfaatkan barang bekas seperti botol plastik bekas, ceting plastik, ember cat plastik untuk dibuat menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat. Saya menggunakan botol plastik untuk dibuat menjadi media tanaman. Tidak susah, asal sudah ada niat pasti jadi. 


Foto di atas merupakan hasil pemanfaatan botol plastik yang saya gunakan untuk menanam bunga Crokot. Kalau jumlah botolnya banyak, bisa membuat tampilan tembok rumah bagian luar kamu jadi cakep. Yakan? Bisa buat background selfi hehe. Cara membuatnya juga sederhana. Nanti saya akan bahas di postingan berikutnya yaa.

Saya juga melebarkan pemanfaatan botol plastik, ember plastik dan lain sebagainya untuk ber-hidroponik ria. Untuk hidroponik memang hal baru yang saya coba lakukan. Tidak banyak mengeluarkan modal, saya hanya modal untuk beli benih dan nutrisi tanaman. Mudah jika kita mau berusaha. Saya berhidroponik dengan semua bahan bekas. Dari penampung airnya, kain yang dipakai untuk tempat benih tumbuh, semua dengan bahan bekas. 








 Jika kita kreatif, maka tidak akan ada sampah yang sia-sia. Ini, cara saya memerdekakan alam. Kalau kamu? Share yuk di kolom komentar ya