A Personal Blog About Blogging, Hobbies, and Lifestyle

Sebuah Kumpulan Novelet Rempah Rindu


Hai sobat blogger. Selamat tahun baru!

Tahun baru kali ini, aku awali blogpost kali ini dengan sebuah ulasan tentang buku yang akhir tahun kemarin kubaca.

Identitas Buku:
Judul: Rempah Rindu
Penerbit: Azkiya Publishing
Penulis: Gina Maftuhah, Marfa Umi, MS Wijaya, Nenny Maknun, Pratamu Diah Herliani, Salamun Ali Mafaz, Veronica Gabriella
Tahun Terbit: Agustus 2019
Tebal: 256 halaman

REMPAH RINDU; Ketika Kehangatan Rasa Perlu Diungkap

Ketika bukunya sampai di tanganku, jujur aku suka covernya. Hanya saja aku kurang sepakat untuk letak penulisan nama-nama penulis di bagian atas. Agak gimana gitu. Hehe


Rempah Rindu, salah satu judul novelet yang dijadikan sebagai pemuka buku ini. Awal pencarian bookstagrammer, aku belum tahu kalau buku ini adalah kumpulan novelet yang ternyata ditulis oleh tujuh penulis. Aku kira ini sebuah novel hehe.

Aku sedikit menebak mengapa kumpulan novelet ini memakai judul Rempah Rindu, kayaknya karena Rempah Rindu judul paling umum yang bisa mewakili dari keseluruhan novelet ini.

Setelah membaca ketujuh cerita di buku ini, ada yang berhasil membuatku berkaca-kaca, ada yang membuatku bosan dan dan yang membuatku mikir keras. Tidak ada benang merah di kumpulan novelet ini. Masing-masing tulisan bisa dibaca secara acak. Karena memang tidak saling terhubung.

Buku ini terdiri dari tujuh cerita.
1. Rempah Rindu (MS Wijaya)
2. Kidung Vanili (Nenny Maknun)
3. Aroma Cinta Andaliman (Veronica Gabriella)
4. Piper Amoris (Pratamu Diah Herliani)
5. Memoar Anise (Marfa Umi)
6. Kukejar Cinta ke Negeri Rempah (Salamun Ali Mafaz)
7. Tenun Kenangan dalam Semangkuk Soto (Gina Maftuhah)

Jujur agak sedikit susah bagiku mengulas kumpulan novelet ini. Karena ini pertama kali aku membaca kumpulan novelet dengan cerita yang terpisah tapi masih dengan tema yang sama. Tapi ini pengalaman baru bagiku. Hehe.

Rempah Rindu bercerita tentang Aryo Sugondo, seorang chef yang menggemari jahe. Hanya jahelah, ia bisa terus mengingat ibunya. Kehidupan Aryo kecil dan dewasa diceritakan oleh penulis dengan cukup jelas melalui kilas balik. Sehingga sebagai pembaca aku tahu, kehidupan Aryo saat kecil dan dewasa hingga dia diangkat sebagai anak oleh seorang bule bernama Paul. Ide ceritanya memang sederhana tapi aku cukup menikmatinya meskipun masih terdapat kesalahan ketika di beberapa bagiannya.


Kisah kehilangan ibu, juga dirasakan oleh kidung, dalam tulisan Kidung Vanili. Sudah bisa ditebak bukan, rempah apa yang ada di cerita ini? Yups, vanili. Kidung menjadi gadis vanili karena betapa cintanya ia pada vanili. Hanya saja, setelah dipecatnya bapak dari kebun vanili, yang membuat akses Kidung untuk menikmati hamparan kebun vanili beserta aromanya terbatas. Belum lagi perilaku bapaknya yang justru membuatnya harus kehilangan ibunya. Cukup sedih, bagaimana Kidung saat kecil harus kehilangan ibu tapi dia bisa survive dengan keadaannya. Apalagi Kidung adalah anak kecil. Konflik di cerita Kidung Vanili ini menurutku padat. Tidak hanya berputar dengan kehidupan Kidung setelah kepergian ibunya, tapi kehadiran Banyu Biru dengan keterbatasannya. Hingga Arjuna, laki-laki penyuka vanili. Karakter masing-masing tokohnya kuat sehingga mudah diingat. Untuk endingnya juga pas, penyelesaian konfliknya yang tidak terburu-buru membuatku menikmati kisah Kidung.


Tidak hanya kisah Aryo dan Kidung saja yang kehilanggan ibunya. Pada cerita Aroma Cinta Andaliman, sang tokoh bernama Lamtiur juga harus kehilangan ibunya. Kehilangan berawal dari Tiur yang ingin mengejar impiannya, sedangkan ibunya menghendaki Tiur untuk melanjutkan usaha warung makannya saja. Di antara pilihan yang sulit dan tekad yang sudah bulat, Tiur tetap mengejar impiannya.

Aku suka ide cerita Aroma Cinta Andaliman. Idenya memang sederhana, tapi penulis berhasil mengemasnya dengan apik. Karakter para tokohnya juga konsisten dari awal sampai akhir. Konfliknya ini rumit. Tapi aku suka bagaimana kak Veronica ini menyelesaikannya, aku sangat menikmati kisah Tiur dan Umaknya. Satu kalimat yang sampai sekarang masih membekas:
"Perjalanan jauh mungkin langkah kita melihat dunia, tapi pulang ke rumah adalah cara kita menemukan diri sendiri" halaman 128.


Membaca Piper Amoris ini aku seperti menonton serial pintu berkah yang disiarkan di stasiun televisi swasta. Entah kenapa alurnya hampir sama. Bagaimana tokohnya Bastian ini menanggalkan semua fasilitas dari orangtuanya untuk memulai hidup baru dengan gelar dokter yang ia sandang. Piper Amoris juga menceritakan tentang petani lada yang harus menderita lahir batin karena ulah pak Dibjo yang semena-mena. Sungguh, aku seperti nonton sinetron. Menurutku alurnya juga cukup cepat. Bagaimana pak Dibjo juga dengan cepat berubah sejak kehadiran dan percakapannya dengan Bastian. Tapi aku suka tokoh Bastian, dia benar-benar loveable. Hehe.  Dari ketujuh cerita yang ditulis di buku ini, kisah Bastianlah yang berhasil bikin aku tertawa. Penasaran? Ayo baca. 


Memoar Anise, ini merupakan tulisan Marfa yang menurutku paling berbeda dari semua cerita yang ada dibuku ini. Konsepnya seperti buku catatan harian. Ada  keterangan waktu dan tempat. Meski tidak semua cerita yang ditulis dengan keterangan waktu. Membaca memoar Anise membuatku berpikir berulang kali. Ini karena bahasa yang dipakai memang tidak sederhana seperti keenam cerita lain di buku ini. Tapi aku cukup menikmati karena pemilihan diksinya, dan karena minimnya kesalahan pengetikan. Dan aku menemukan banyak pesan di setiap catatan yang ditulis oleh kak Marfa ini.
“Pertanyaan mengenai siapa kita di kehidupan sebelumnya, sering kali terlintas”



Kukejar Cinta ke Negeri Rempah ini menceritakan Diva yang sedang berjuang menyelesaikan papernya tentang ragam menu Nusantara. Pertemuannya dengan Dhika di warung legendaris mbok Darmi menjadi awal kedekatan mereka.Ide cerita love at the first sight ini memang sudah umum sekali tapi ya tidak membosankan. Hanya saja, alur ceritanya sangat cepat jadi aku tidak begitu menikmati kedekatan Diva dan Dhika. Tapi aku senang membaca kisah Diva dan Dhika, aku jadi bernostalgia dengan hal-hal yang ada di Cirebon. Seperti empal gentong, keraton kasepuhan. Dari kisah ini juga aku belajar dari tokoh Rani, untuk menerima dengan ikhlas kalau cinta memang tidak bisa dipaksakan. Kita tidak mungkin harus memaksa kehendak kepada orang lain untuk cinta dengan kita. 


Tenun Kenangan dalam Semangkuk Soto ini tepat sekali menjadi penutup. Setelah dua cerita yang sedikit membosankan karena alurnya yang sangat mudah ditebak. Dalam cerita Tenun Kenangan dalam Semangkuk Soto ini hanya ada tokoh aku dan kamu. Ditulis dengan menggunakan sudut pandang orang pertama yaitu aku. Alurnya mundur. Menceritakan hubungan LDR yang sempat dijalani oleh dua tokoh di cerita ini. Aku menikmati sekali, setiap kalimat yang ditulis oleh penulis. Aku seperti sedang diajak untuk mengingat kembali bagaimana hubungan mereka yang sudah terjalin lama harus diterpa badai masalah. Aku belajar dari tokoh aku dan kamu; betapa komunikasi sangat penting, dan menanggalkan sikap egois, adalah cara merawat hubungan agar tetap berlanjut sekalipun badai topan menerpa. Aku mengakui, dari tujuh cerita yang ada di buku ini, tulisan paling matang dan masuk dalam tulisan yang aku suka itu adalah tulisan kak Gina.

"Kerja keras adalah prinsip yang harus digigit agar bisa bertahan" halaman 240.


Terima kasih, kak Marfa untuk bukunya. Mohon maaf atas keterlambatan dalam mengulas buku ini dan mohon maaf masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam penyampaiannya. Ditunggu karya-karya berikutnya. 🤗💛



Tidak ada komentar

Posting Komentar