From Citizen (I wish) To Be Journalist.

“Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali” ya, saya sering meratapi hal tersebut. Kenapa tidak dari awal saya menjadi CJ? Kenapa saya baru tahu di akhir saya menjadi mahasiswa? Begitu kalimat-kalimat itu berterbangan di pikiran saya.
Foto saat Pengambilan Reward Crossroad Report Pro2 RRI Purwokerto. (Dok. Pribadi)
Menjadi Citizen Journalist, dimulai saat 2016 akhir menuju awal 2017.
Saya menjajal mengasah kecintaan saya terhadap jurnalistik di sebuah radio milik negara yang berada di Purwokerto. Persyaratannya mudah. Setiap yang ingin bergabung itu cukup melaporkan situasi terkini seputar lalulintas yang kita lewati, dan tentunya sekreatif mungkin. Karena saya adalah tipe penyuka tantangan, suka mencari hal baru, maka ikutlah.
Gambar Liputan di Jalan Ahmad Yani Purwokerto (Dok. Pribadi)
Saya menjadi Radio Citizen Journalist terhitung dari tanggal 5 Januari 2017 sampai 5 November 2017. Waktu yang cukup lama, waktu yang banyak memberikan saya pelajaran berharga.  Pelajaran yang sangat berharga adalah tentang sebuah ke-konsisten-an. Setiap pukul enam pagi, saya keluar kos menuju suatu jalan, mengamati setiap pengguna jalan. Dari pengguna jalan yang tertib hingga yang berbonceng tiga tanpa helm. Dari pengendara yang berhenti tepat di dalam kotak bergaris putih sampai yang nyerobot lampu merah. Pokoknya banyak banget hal unik, lucu, nggemesin, nyebeli yang saya dapat tiap pagi ketika liputan lalulintas. Konsisten itu membuahkan hasil. Konsisten, ketekunan, keuletan itu membawa saya pada jalan yang keren dan menyenangkan. Di tahun 2017, saya mendapatkan hal-hal baru yang saya yakini adalah hasil dari saya konsisten mencoba, konsisten dalam melakukan suatu usaha dan tentunya doa-doa dari orangtua.
Dalam perjalanan menjadi seorang Radio Citizen Journalist, saya kerap mendapatkan merchandise. Dari tas, baju, uang dan lain sebagainya. Tapi itu bukan hal terpenting. Hal yang paling penting adalah sebuah pengalaman berharga. Bertemu orang baru, punya relasi baru, bisa menyerap banyak pelajaran dari orang-orang hebat.
Kegemaran saya menjadi citizen journalist tidak hanya berlaku untuk liputan di radio saja, atau televisi saja, ataupun dalam lomba-lomba. Tapi saya terapkan juga dalam kehidupan sehari-hari.

Misal itu pada bulan Maret, saya mengupload sebuah foto tentang jalan yang berlubang cukup dalam dan cukup banyak bertebar di sepanjang jalan itu. Jalan tersebut merupakan jalan yang utama yang biasa dilalui kendaraan dari berbagai kota, daerah. Jalan Raya Sampang Buntu, bisa disebut jalan propinsi dan jalan nasional. Maka dari itu saya langsung mengupload kondisi jalan tersebut seperti berusaha untuk mengabarkan kepada yang bersangkutan kalau di sini jalannya rusak dan cukup membahayakan pengendara.
Kondisi Sebagian Jalan Raya Sampang Buntu yang rusak (Dok. Pribadi)
Dengan bahasa yang santun saya coba informasikan hal tersebut. Dan saya senang! Foto tersebut dapat reaksi dan tanggapan dari Gubernur Jawa Tengah. “Taun ini sudah dianggarkan” kata beliau.
Saya juga memposting foto lagi karena saya anggap memang tidak hanya jalan di bagian barat, di bagian timur pun juga mengalami kerusakan. Beruntungnya, warga masyarakat sekitar sangat tanggap dengan fenomena jalan rusak. Mereka menandai jalan rusak dengan pohon pisang. Tentunya pohon pisang itu sebagai tanda kepedulian masyarakat masih sangat tinggi.
Jalan Raya Sampang Buntu Arah menuju Kebumen Yogyakarta (Dok. Pribadi)
Alhamdulillah, beberapa hari setelah foto itu terposting. Ayah saya menelpon saya, bahwa jalan yang saya posting itu langsung ditangani dan pengerjaannya pun sesuai dengan saran yang saya sampaikan melalui postingan tersebut.
Foto Perbaikan Jalan Raya Sampang Buntu (Dok. Pribadi)
Alhamdulillah kini, jalan yang semula berlubang dalam. Memprihatinkan ketika musim hujan datang. Sudah tak lagi sama. Sekarang jalan tersebut sudah sangat nyaman untuk dilewati. Tidak berbahaya, dengan catatan setiap pengendara harus menghormati hak-hak pengendara yang lain. Ya kaaaan? Ya donggg! Lu kira itu jalan nenek- kakek lu? Seenaknya kebut-kebutan. Jangan sampai gitu lah ya.
Dan begini penampakan saat perbaikan sebagian Jalan Raya Sampang Buntu. Saya tidak begitu mengamati berapa lama pengerjaan perbaikan jalan tersebut. Terpenting, jalan itu kini sudah bisa dilalui dengan rasa senang dan nyaman. Tak lagi khawatir kejeglong. Hehe.
Foto Kondisi Jalan Raya Sampang Buntu Setelah Perbaikan (Dok. Pribadi)
 Tahun 2017, saya juga mendapatkan pengalaman berkesan menjadi CJ. Pada saat bulan puasa ramadhan di akhir, platform twitter Media Indonesia mengadakan sebuah kompetisi liputan mudik lebaran. Saya ikut dan dengan senang hati mengabarkan, menginformasikan arus mudik di tempat tinggal saya. Kebetulan, rumah saya dekat dengan jalan nasional yang dilalui oleh banyak para pemudik dari berbagai kota. Dua mingguan, karena harus meliput H-7 lebaran dan H+7 lebaran. Saya menjelajahi sudut jalan dari jalan depan rumah, pos lebaran polsek Sampang, Rawalo, Buntu, Patikraja hingga Banyumas bagian selatan menuju Kebumen-Yogyakarta. Saya senang. Saya tidak mengejar menang, kalau menang itu bonus. Kecintaan saya terhadap dunia jurnalistik dan senang berbagi informasilah yang mendasari saya untuk melakukan hal tersebut. Dari pagi, Siang, Malam sehabis terawih saya liputan. Alhamdulillah, saya dinyataka sebagai juara 2. Saya juga menang liputan mudik di platform twitter Republika. Dapat merchandise. (Fotonya udah tenggelam jadi susah nyarinya).
Foto informasi menang Liputan Mudik 2017 dari Media Indonesia
Pada bulan September 2017, saya mendapatkan undangan dari RRI Purwokerto untuk ikut menjadi tamu dalam rangka memperingati hari ulang tahun RRI ke 72. Suatu kehormatan bagi saya diundang oleh pihak RRI dalam momen yang keren itu. Di momen tersebut saya mendapatkan penghargaan sebagai Citizen Journalist. Beberapa hadiah merchandise juga saya bawa pulang. Terima kasih RRI Purwokerto atas kesempatan yang baik dan luar biasa penuh pengalaman berharga.