Bukan Dewa, Cuma Mahasiswa Setengah Kuis Hunter.

Tadi pagi, dosen mata kuliah penulisan feature dan artikel memberi sebuah tugas yang cukup membuat teman-teman bingung dan mikir keras. Pasalnya, pak Arif meminta kami ( aku dan teman-teman) untuk mebuat tulisan tentang keunikan yang dimiliki.
Okelah, berhubung aku sedang senggang, aku akan menuliskan secuil keunikan dari diri ini.
Perkenalkan, namaku Hanat Futuh Nihayah. Nama kecilku Futuh. Hampir di seluruh penjuru desa, aku dipanggil dengan sebutan Futuh. Namun, di lingkungan sekolah aku akrab disapa Hanat. Tidak hanya itu, beberapa teman sekolahku, iseng memanggil namaku dengan sebutan Donat, Granat dan Hantu (Hanat Futuh). Tidak apa, aku senang dipanggil siapa ajah. Disapa sebagai Maudy Ayunda juga tidak masalah. Haha.
Berbicara tentang keunikan, mungkin keunikan yang aku miliki hanya secuil. Karena keunikan ini muncul saat awal perkuliahan. Begini kisahnya.
Awal masuk perkuliahan semester satu, ada sebuah seminar nasional dari lembaga pers mahasiswa di kampusku. Tentunya, aku mengikutinya dengan khusyu' dan berhasil duduk di deretan bangku utama. Dari sinilah, aku memulai keberanianku. Aku menyimak beberapa materi seminar. Sesekali aku berpikir, ada kuisnya tidak ya? Hehe.
Pada akhir seminar, ternyata ada kuisnya. Hadiah kuisnya adalah sebuah buku kumpulan cerpen dari para penulis di beberapa kampus ternama di Indonesia. Tanpa rasa takut, aku menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu panitia seminar tersebut. Ya, jawabanku sesuai dan berhasil mendapatkan sebuah buku kumpulan cerita pendek.
Dari situlah, aku mengisi kekosongan kuliahku dengan membaca buku-buku yang kupunya.
Tidak sampai di situ, hobi membaca bukuku mengantarku menjadi seorang pejuang kuis. Kalau teman-temanku bilang "ratu kuis" lebih kerennya lagi quiz hunter.
Sebenarnya, aku tidak sengaja menjadi seorang quiz hunter. Aku hanya memanfaatkan fasilitas yang diberikan oleh orang tuaku, seperti laptop dan hape bermerek namaku sendiri (HT). Ketidakpunyaan modem membuatku menggunakan fasilitas internet gratis dari kampus.
Pertama kalinya waktu itu (2014) aku mendapatkan beasiswa dari data print dengan nominal yang lumayan bagi mahasiswa sekelasku. Sebelum dapat data print, aku memang sudah mendapatkan beasiswa penuh selama delapan semester dari kampus. Memang tidak dapat tunjangan hidup, tapi itu sudah sangat membantuku dan bersyukur banyak aku bisa mendapatkannya.
Sepanjang libur semester aku stay di kampus. Sesekali pulang ke rumah. Tapi banyak tinggal di kampus. Tidak banyak yang kulakukan sepanjang liburan semester. Hanya baca buku, internetan dan tiduran. Monoton sekali.
Aku mulai mengaktifkan kembali twitterku. Iseng mengikuti beberapa kuis yang diadakan oleh beberapa penerbit. Sepanjang tahun 2014 aku mendapatkan sekitar 50 buku beredisi tanda tangan yang beberapa di antaranya dikirim langsung oleh penulisnya. Antara lain, buku dari Theodora judulnya Maharesa, Hanum Salsabila Rais judulnya Bulan terbelah di langit Amerika, Jilbab Love Story dari Pak Redy, Madrasah Cinta dari pak Dwi Suwiknyo, dan masih banyak lainnya.
Tidak hanya itu, tahun 2014 juga menjadi tahun pertama bagiku memiliki handphone baru sejenis android dari Smartfren dan MNCTV dalam kuis Semangat Berbagi Bersama Smartfren. Mendapatkan handphone android dan uang tunai total satu jutaan membuatku menjadi semangat.
2014 pula, awal puisi-puisiku dimuat di surat kabar. Memang tidak mendapatkan royalti, tapi dimuat dan tampak puisi dan fotoku saja itu sudah membuatku bahagia dan semangat untuk berkarya lebih baik lagi. Hingga beberapa kali puisi-puisiku mendapatkan tempat sesuai porsinya.
Tahun 2015 aku mendapatkan hadiah buku total 500 ribu rupiah dari mbak Dian Nafi yakni Kuis Selfie. Banyak-banyak bersyukur.