Banyumas, 6 Januari 2009



      Dear my first love
Salam rindu untukmu yang tak pernah lagi hadir disisiku. Yang terpisah oleh dua alam yang tak bisa di tembus dengan mata biasa. Aku yang sekarang tak lagi bisa merasakan perhatianmu, menikmati indah senyummu, celotehan nakalmu. Ya semua pernah ku lalui bersamamu, yang ku rindukan. Aku sekarang seperti karang yang setiap hari terhempas ombak, harus kuat, meski batinku menangis karena memang aku merindukanmu. Dan ingatkah kamu? Aku selalu mengingat dan mengingat setiap peristiwa yang pernah ku lalui bersamamu.
Ingatkah dirimu dengan perkenalan kita? Kamu lupa? Sekarang akan aku ceritakan kembali. Pertama kali, hari senin tanggal 28 Juli 2008, sahabatku, Jupe dan Pasca yang notabene adalah teman satu SMP dan teman satu kelasmu, mereka mengenalkan ku dengan sosok yang belum pernah aku temui. Dia adalah kamu, Kemal. Posisi pada saat itu aku duduk dikelas delapan dan kamu duduk dikelas tujuh dan tentunya beda sekolah. Semenjak hari itu, kita sering sekali sms-an, chating dan belajar bareng lewat webcam. Aku merasakan kenyaman ketika cerita denganmu. Cerita tentang pelajaran dan semua dunia anak SMP.
Tapi, kebersamaanku denganmu ternyata membuat seorang sahabatku cemburu. Aku bingung. Aku juga marah dengan mereka yang mulai menjauhiku. Mereka mengenalkanmu kepada ku dan mereka cemburu begitu saja. Aku berusaha menyimpan marahku dilaci. belum sampai satu bukan gelisahku menyebar. mengisi gorong-gorong hati yang mualai terisi.  Entah apa yang aku rasakan dan seperti apa yang kurasakan. Cemburu, sikap yang tak wajar menghampiri diriku yang mulai menaruh hati padamu. Ya, asal kau tahu. Sekarang hatiku telah terkontaminasi oleh perhatian-perhatianmu. Sikapmu yang ramah, selalu mencari kabarku. Hingga pada suatu sore, handphone ku mati, kau menelpon kakaku yang dirumah. Dan mungkin aku salah menafsirkan perhatian-perhatianmu yang kamu berikan untukku.
Tanggal 17 September 2008, itu adalah ulang tahunmu. Aku mengirimkan kartu ulang tahun untukmu lewat email. Jarak diantara kita yang sebenarnya tak begitu jauh, jika ditempuh dengan sepeda motor hanya membutuhkan waktu sepuluh menit. Aku sempat membungkus kado untukmu saat itu. Dan ingin ku titipkan pada Jupe, tapi tak jadi. Karena ada alasan kuat yang membuatku membatalkan niat itu. Dan jujur Mal, aku sedikit menyesal tak memberikan kado itu untukmu. Terlambat aku menyesali hal itu.
Bulan keempat, November. I feel getting close to you. Hari-hari kian berwarna, seperti pelangi yang memiliki tujuh warna dan aku memiliki seribu warna denganmu. semalaman ini, semalaman kemarin, semalaman yang lalu-lalu, pun semalaman akhir tahun nanti rasanya cuma dan bakalan keisi tentang kamu. Aku benar ada rasa untukmu. Sungguh, hati ini ingin jujur padamu. Tapi, aku merasa ada tembok besar. Sahabatku, Pasca. Dia menyayangimu juga. Aku tahu, dan aku juga sadar diri. Aku mengenalmu dar dia. Dan aku tak pantas untuk rebut dengannya demi merebut hatimu. Aku rasa memang ini cinta monyet. Cinta anak SMP, cinta anak ingusan dan cinta yang abstrak. Itu perkataan-perkataan yang keluar dari mulutku yang hanya sebagai pelipur saja, Mal.
Awal Desember, aku ingin sekali jujur denganmu Mal. Tentang perasaanku yang menafsirkan perhatian-perhatianmu. Aku tak lagi takut jika sahabatku marah padaku. Tapi entah mimpi apa semalam. Sepagi buta aku mendapat sms darimu, kamu masih ingat? Harusnya, kamu ingat. Sms yang bunyinya “I miss you”. Sepatah kata yang membuat hatiku berdebar-debar dan pipi yang mulai berwarna merah, merah merona. Oh God. Aku terkejut, aku tak menyangka. Kamu mempunyai perasaan yang sama denganku. Dan aku pun membalas sms mu begitu lama, satu jam kira-kira. Dan akhir tahunku yang indah kurasakan bersamamu. Hidup terasa lebih berwarna, dan jarak yang membuat kita saling mengerti. This is a wonderful gift I ever got. And you’re the best one I have ever seen….


                 
                                               
                                                            Alfuady Nuhaya
Nominator 75 Surat Akhir Tahun Yang Mengesankan.