Judul: Kanaka dan piring-piring kosongnya
Penulis: Suarcani
Penerbit: Buku Kompas
Tebal: 209 halaman
Tahun terbit: 2026
Harga: Rp. 129.000 (pulau Jawa)
Kasus keracunan lawar plek buatan Bapak berujung kematian. Tragedi yang sama pernah terjadi enam tahun lalu hingga membuat Ibu meninggal. Atas desakan sang adik, Rajata, Kanaka terpaksa pulang ke Bali dan menemui Bapak. Namun, lawar tersebut ternyata dibuat oleh Rajata. Bapak mengakui dosa itu dan dipenjara untuk melindungi Rajata.
Tanpa Kanaka tahu, petugas yang menangani kasus Bapak adalah Erlang, lelaki yang tanpa penjelasan ataupun rasa bersalah telah meninggalkannya untuk menikah dengan perempuan lain.
Di antara rasa bersalah Rajata yang berujung percobaan bunuh diri, kebencian terhadap Bapak, dan kerinduan akan lawar plek, Kanaka juga harus menghadapi Erlang.
Bagaimana Kanaka bisa menghadapi semuanya sekaligus?
Kanaka dan piring-piring kosongnya; proses penerimaan diri, melepas luka, benci, dan trauma.
Bagi sebagian banyak orang, meja makan menjadi salah satu sudut ruang yang menyimpan hangat, tempat berkumpul sambil makan dan bertukar cerita. Tapi bagi Kanaka, meja makan di rumahnya tidak lagi sama sejak tragedi 6 tahun lalu, yang menurutnya meninggalnya Ibu karena setelah makan lawar plek buatan Bapak. Meja makan dan piring-piringnya di rumah bagi Kanaka adalah tempat yang menyimpan luka, benci, dan trauma.
Tragedi keracunan kembali terjadi, satu orang meninggal menjadi pembuka cerita. Kanaka terpaksa pulang, padahal hatinya mengatakan tidak, tapi keadaan memaksanya untuk tetap pulang karena Rajata, adiknya mencoba melakukan hal fatal yang mengancam nyawanya. Sedang Bapak memilih untuk mendekam di penjara untuk melindungi Rajata.
Kasus keracunan tersebut juga kembali menyeret Kanaka untuk bertemu dengan mantan kekasihnya yang bernama Erlang. Erlang merupakan anggota kepolisian yang menangani kasus keracunan Bapak Kanaka.
Sentuhan emosional di novel ini kentara dan terasa sekali. Beberapa kali saya mengutuk Kanaka yang keras kepala, tapi saya memaklumi juga bagaimana perasaan dia menghadapi kehilangan dan pengkhianatan. Terluka, benci dan trauma yang dirasakan Kanaka membentuk dirinya menjadi keras kepala dan mungkin juga karena anak pertama, dia dipaksa harus selalu kuat, tegar, dan harus mampu menjadi tempat penampung masalah beserta solusinya. Saya suka karakter Kanaka yang cukup berkembang, karena pada akhirnya hidup membawanya untuk berani melangkah dan menghadapi trauma. Dari Kanaka kita bisa mengambil pelajaran yang berharga, bahwa untuk menyembuhkan luka bukan berarti kita harus melupakannya, tapi kita harus duduk kembali, menata ulang hidup, dan pelan-pelan berdamai dengan kenyataan yang tidak pernah ada sempurnanya.
Sedangkan untuk karakter tokoh lain, perannya menurutku cukup membantu dan pas porsinya. Tidak ada yang terlalu dominan juga. Saya suka tokoh Jef yang sangat bijak, dikala Kanaka sedang emosi atau apapun, Jef tetap meladeni dia dengan bijak dan hadirnya Jef seperti penyeimbang karakter Kanaka. Saat membaca bagian Kanaka dan Jef, saya berpikir kapal ini akan berlayar menjadi satu cerita utuh di novel selanjutnya tidak ya?
Ada catatan sedikit kesalah penulisan tokoh Rajata menjadi Rajaka di halaman 69. Barangkali di satu hari besok, novel ini akan terbit di cetakan kedua dan selanjutnya.
Ada beberapa bagian yang pacenya terlalu cepat, seperti misalnya adegan Bibi dan Kanaka, yang saat bertemu tidak ada pembicaraan tentang kabar atau sekadar basa-basi. Mereka langsung saja berdebat dan ribut tentang kasus yang sedang dihadapi oleh Bapak. Lalu ada bagian yang terasa seperti lambat. Seperti bagian Erlang dan Kanaka, yang di kantor kepolisian, atau di beberapa tempat. Tentang penjelasan hubungan mereka yang berakhir sepihak, dan itu yang membuat Kanaka benci dan seperti ingin menghindar dan tidak mau berkomunikasi lagi dengan Erlang. Tapi, kasus Bapak malah membuatnya kembali bertemu.
Buat kamu penikmat cerita slice of life seperti saya, novel ini saya rekomendasikan untuk dibaca. Selain premisnya yang menarik. Novel ini banyak berisikan tentang informasi budaya, tradisi, bahasa dan lainnya tentang Bali. Ada banyak kata dalam bahasa Bali yang bisa kita temukan saat membacanya. Dan ada catatan kaki di setiap kata dalam bahasa Bali yang menambah pengetahuan kita akan arti dan maknanya.
Penyelesaian konfliknya juga mengalir. Dan baru kali ini, ketika saya baca novel karya penulis, saya tidak menuntut sesuatu untuk dibikinkan squelnya. Tapi kalau misal mau ada cerita kapal Kanaka dan Jef berlayar juga saya mau. Asal jangan kembali ke Erlang saja. Hehe.
Novel bertema kuliner ini menjadi novel juara 2 dalam lomba menulis cerita khatulistiwa tahun 2023. Dulu, saya sempat membacanya saat masih dilombakan dan membacanya di website gwp.id. Sesuai prediksi dan berhasil masuk tiga besar.
Beberapa kalimat yang saya suka di Novel Kanaka dan piring-piring kosongnya
"Jangan sesekali memanusiakan pada dewa, jangan pula mendewa-dewakan manusia." Halaman 128.
"Kebencian membuatmu buta sehingga tidak bisa memahami maksud baik orang itu." Halaman 138.
"Na, tahu kenapa sampai sekarang kamu belum bisa moveon dari dia? Itu karena kamu masih membencinya. Kebencian membuatmu terikat padanya dengan cara yang salah. Karena itu kamu harus memaafkannya agar bisa melepaskannya." Halaman 190.
Bagian lainnya yang saya suka adalah penjelasan filosofi tentang empat bumbu yang melambangkan arah mata angin dan memiliki makna masing-masing dan semua itu bertujuan menjaga keseimbangan. Saya seperti diajak untuk belajar tentang sejarah kuliner Bali yang menambah pengetahuan.
Kesimpulan
Bagi saya, cerita Kanaka dan piring-piring kosongnya bukan hanya sekadar cerita bertemakan kuliner saja, tetapi ada eksplorasi emosional di masing-masing tokohnya. Novel ini sebagai gambaran bahwa rumah tidak selamanya menjadi tempat pulang yang menyenangkan dan aman karena komunikasi di dalamnya sudah tidak ada. Namun, cerita Lawar Plek ini juga mengajari kita untuk memiliki keberanian untuk kembali duduk dan menata piring-piring kosong itu lalu mengisinya dengan tenang dan maaf adalah awal dari proses menyembuhkan luka.

Tidak ada komentar
Posting Komentar