Puisi Hanat Futuh

Pengantar:
Alhamdulillah puisi saya dimuat di Tetas Kata, COMPETER. Puisi ini sebenarnya terinspirasi dari kisah yang dikisahkan oleh teman saya. Selamat membaca.
Sayang seribu sayang
Sayang seribu sayang, duduk di danau sore itu
Adalah perjumpaan terakhir
Tak ada senyum hanya untaian kecemasan
Sebab cinta sudah di ambang kehancuran
Sayang seribu sayang, status sosialku
Adalah kesialan berkepanjangan
Semua orang bilang kalau aku perempuan malang
Ah! Sialan!
Sayang seribu sayang, kata-kata ibumu
serupa pedang tajam
Mengataiku sembarangan sebagai wanita jalang
Tak pantas bersanding dengan
Anaknya yang tampan; kau mapan sedang aku tak bergelimang
Sayang seribu sayang
Aku telah kerasukan setan, aku membenci ibumu
setengah mendendam
aku benci sayang!
Mengapa kita harus menelan perpisahan yang panjang?
Banyumas, 2015.