Hai, kamu. Terima kasih sudah membaca kalimat pertama tulisan di blog ini. Sebuah tulisan pertama yang aku tulis di tahun 2026. Seharusnya aku menulisnya di tanggal 1 Januari, di hari pertama tahun ini berjalan. Tapi rasanya, aku sedang lelah, energi yang seharusnya baru, justru habis. Seharusnya, aku menyambut tahun baru kali ini, dengan membaca catatan resolusiku tahun kemarin, dan mengevaluasi resolusi mana yang tidak berhasil dicapai. Tapi, akhir tahun kemarin, dan awal tahun ini rasanya sedang lelah dan patah.
Aku sedang tidak menyalahkan diriku sendiri, aku sedang tidak menyalahkan orang lain, dan aku juga sedang tidak menyalahkan keadaan. Ini bukan tentang salah-salahan. Ini tentang aku yang sedang patah karena terlalu berharap. Memang benar, sebaik-baik berharap hanya pada Allah, jangan berharap sama manusia. Sebab, Allah Maha Tahu, sedang manusia hanya bisa mengecewakan.
Perjalananku kemarin adalah sedang mengevaluasi diri. Bagaimana aku menghabiskan waktu hanya untuk berharap sama manusia. Mengapa bisa hari-hariku sia-sia untuk sebuah harapan yang ternyata hanya semu semata. Mengapa bisa harapan itu membawaku jauh dari doa. Aku lupa dalam berharap, harus ada usaha dan doa. Aku lupa tidak melibatkan Allah dalam harapanku. Aku hanya berharap sama manusia. Itu yang keliru.
Irna–teman baikku di ujung pulau Sumatera bilang, bahwa kamu patah, kamu terluka, itu karena kamu menaruh harapan yang besar sama manusia, coba kalau kamu taruh harapan itu sama Allah, nggak ada sakit hati, nggak ada patah hati.
Satu kalimat yang meluncur dari voice note yang ia kirimkan untukku pada malam selepas Maghrib. Saat hatiku lagi patah-patahnya, saat mataku sedang basah-basahnya. Ia membiarkanku mengambil waktuku sendiri.
Aku mulai memikirkan ucapannya. Aku dengarkan lagi. Benar, selama ini aku hanya sia-sia, mengabiskan waktu-waktu yang seharusnya bisa untuk produktif, bisa bermanfaat untuk hal-hal baik, justru aku sia-siakan untuk berharap sama manusia yang sebenarnya ujungnya itu aku tahu aku akan patah hati. Tapi, saat itu, logika dan perasaanku dibutakan sama harapan itu. Jadi aku yakini, saat itu harapan itu akan bermuara pada jalan-jalan yang selalu aku impikan. Harapan itu akan bermuara, harapan itu akan mewujud jadi nyata. Sayangnya, sampai tulisan ini ditulis pun, rasanya harapan itu semakin jauh dari kenyataan. Dan sepertinya, menguap bersama udara, mengalir dan pergi jauh bersama hujan deras di sepanjang bulan Januari.
Catatan ini aku buat sebagai pengingat, bahwa sebaik-baik tempat berharap itu adalah Tuhan (Allah SWT). Sebab, Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu yang tidak manusia ketahui.
Saat aku menyelesaikan catatan ini, aku sedang menyusun harapanku yang baru, tanpa berharap sama manusia, semoga Allah SWT mempermudah setiap usahaku, mendengar doa-doa yang kulangitkan tanpa henti setiap waktu.
Dan aku mulai memahami juga, bahwa setiap harapan yang aku tulis, yang ingin aku wujudkan, yang aku usahakan, yang aku doakan, itu kembali lagi sama Kuasa Allah SWT. Ialah yang paling tahu yang terbaik untuk hamba-Nya.
